Maluku (Tugas PPKn 6 April kls 8)

Kepulauan Maluku


1. Sejarah 

Sebelum masa penjajahan, Maluku menjadi poros perdagangan rempah dunia dengan cengkih dan pala sebagai barang dagangan utama. Hal ini membuat Maluku dijuluki sebagai "Kepulauan Rempah" hingga hari ini. Rakyat Maluku berdagang dengan para pedagang dari berbagai daerah di Nusantara maupun mancanegara seperti pedagang-pedagang Tionghoa, Arab, dan Eropa. Kekayaan rempah ini pun menjadi daya tarik bangsa-bangsa Eropa yang pada akhirnya menguasai Maluku, dimulai oleh Portugis dan terakhir Belanda.


Sejarah Maluku sebagai satu kesatuan dimulai dari pembentukan tiga kegubernuran oleh Perusahaan Hindia Timur Belanda pada abad ke-18, yaitu Ambon, Kepulauan Banda, dan Ternate yang disatukan oleh Belanda pada awal abad ke-19 dalam satu nama, yaitu Maluku. Setelah masa penjajahan, Maluku tetap dipertahankan seutuhnya sebagai provinsi sebelum Maluku Utara dimekarkan menjadi provinsi sendiri pada akhir abad ke-20.


a. Prasejarah

Kepulauan Maluku mulai terbentuk antara 150 hingga satu juta tahun yang lalu, antara zaman Kehidupan Tengah dan zaman es. Kepulauan Maluku tergabung dalam rangkaian Dangkalan Sahul yang terhubung dengan Australia. Kepulauan Maluku pertama kali diduduki sekitar 30.000 tahun yang lalu oleh bangsa Austronesia-Melanesia yang terdiri dari Negrito dan Wedda, kemudian dilanjutkan oleh kedatangan bangsa Melayu Tua, Melayu Muda, kemudian Mongoloid, mengingat letak Maluku sebagai daerah lintas perpindahan penduduk Asia Tenggara ke Melanesia dan Mikronesia. Meskipun demikian, Austronesia-Melanesia dan kebudayaannya tetap menjadi yang terbesar di Maluku. Pulau Seram sebagai Nusa Ina (pulau ibu) memegang kunci sebagai pusat penyebaran penduduk ke seluruh penjuru Kepulauan Maluku.


Budaya prasejarah Maluku dimulai oleh budaya Batu Tua, didukung oleh peninggalan berupa kapak genggam, meskipun manusia pendukung kebudayaan tersebut beserta peninggalan kebudayaan lainnya belum ditemukan. Sementara itu, peninggalan kebudayaan Batu Tengah berupa gua-gua beserta bekas-bekasnya yang dapat ditemukan di Seram dan Kei. Gua-gua di Maluku memiliki lukisan yang menyerupai lukisan gua Papua yang tidak hanya berupa lukisan telapak tangan layaknya gua-gua di Sulawesi, melainkan juga lukisan kehidupan manusia dan hewan. Kebudayaan dilanjutkan oleh kebudayaan Batu Baru dengan budaya bercocok tanam, seiring ditemukannya kapak dan cangkul, yang menjadi dasar perkembangan kebudayaan Maluku hingga saat ini. Selanjutnya, kebudayaan perunggu dan besi meninggalkan nekara, kapak perunggu, gelang, dan patung yang hingga kini dipelihara penduduk setempat sebagai benda pusaka dan lambang kebesaran suku. Sebagian besar nekara yang berada di Maluku merupakan hasil perdagangan dengan daratan Asia Tenggara, Tiongkok Selatan, dan Tonkin sekitar abad pertama masehi. Berbeda dengan daerah lainnya di Asia Tenggara, Batu Besar hanya meninggalkan sedikit peninggalan, yakni punden berundak dan batu pemali (dolmen) yang biasanya diletakaan di atas bukit atau di dekat baileo.


b. Prapenjajahan

Maluku menjadi salah satu tempat terpenting dalam perdagangan dunia karena hasil buminya berupa rempah, terutama pala dan cengkih, yang ramai dicari pedagang dari Barat. Perdagangan dunia konon terbagi menjadi dua jalur, yakni jalur sutra dan jalur rempah di mana keduanya melalui Maluku. Karenanya, Maluku ramai dikunjungi para pedagang asing seperti dari Arab, Persia, Gujarat, dan Tiongkok. Pada abad ke-7, pedagang dari Tiongkok menguasai perdagangan rempah Maluku, kemudian perdagangan dikuasai oleh para pedagang Arab dan Persia pada abad-abad setelahnya. Meskipun demikian, pedagang Arab dan Persia telah tercatat beramai-ramai memasarkan rempah dari Maluku seperti cengkih ke Eropa sejak abad ke-7. Pedagang Arab pun mengenalkan abjad Arab yang berkembang menjadi abjad Jawi kepada masyarakat Maluku serta angka Arab yang digunakan dalam segala pembayaran dalam perdagangan di Maluku. Sriwijaya menguasai Maluku pada abad ke-12, kemudian Majapahit pada abad ke-14. Pada masa ini, pedagang Jawa mengambil alih kuasa dagang Maluku. Pada masa yang sama pula Islam mulai disebarkan kepada penduduk Maluku—sebelumnya Islam hanya dipeluk oleh kalangan musafir dan pedagang—melalui hubungan dagang dengan Timur Tengah serta mubalig Jawa dan Melaka.

Selain perdagangan rempah, sejarah Maluku tidak bisa lepas dari empat kerajaan besar Maluku Utara, yaitu Ternate, Tidore, Bacan, dan Jailolo yang telah ada sejak abad ke-13. Penguasa kerajaan-kerajaan tersebut bergelar kolano (kelana), kemudian diubah menjadi sultan sejak para kolano memeluk Islam pada abad ke-15. Meskipun keempatnya merupakan kerajaan besar, hanya Ternate dan Tidorelah yang memiliki kedudukan penting. Ternate yang membidik barat memperluas wilayahnya hingga Ambon dan barat Seram, terutama pada masa Sultan Khairun dan Sultan Baabullah pada abad ke-16. Sementara itu, Tidore yang membidik timur berhasil menguasai timur Seram. Persaingan antarkedua kerajaan yang sudah menjadi kesultanan tersebut membuat keduanya sering bertikai seperti dalam persaingan untuk bekerja sama dengan mitra asing, khususnya Barat, memicu kekuasaan Barat di Maluku di kemudian hari. Wilayah kekuasaan Ternate disebut sebagai Uli Lima atau persekutuan lima negeri, sedangkan wilayah kekuasaan Tidore disebut sebagai Uli Siwa atau persekutuan sembilan negeri.


c. Masa penjajahan

Setelah menaklukkan Melaka pada 1511, Portugis di bawah Francisco Serrão mencari Kepulauan Maluku. Serrão yang pada awalnya berlabuh di Ambon berakhir di Ternate sebagai sekutunya pada 1512. Sejak itu, Portugis berhasil menanamkan kekuasaannya di Maluku. Portugis membangun beberapa loji dan benteng di Ambon serta Banda di mana terjadi penginjilan dan perkawinan campur di permukiman yang tumbuh di sekitarnya. Banda berperan sebagai pusat perdagangan, sementara Ambon menjadi bandar. Kedudukan Portugis sempat terguncang oleh Spanyol yang tiba pada 1521. Kehadiran Spanyol yang bersekutu dengan Tidore menimbulkan pertikaian dengan Portugis, meski dapat diakhiri dengan penandatanganan Perjanjian Saragosa pada 1529 yang memaksa Spanyol untuk meninggalkan Maluku. Selama berkuasa di Maluku, Portugis mengenalkan teknologi pembangunan Eropa dan tanaman-tanaman asing seperti ketela serta merintis pendidikan barat di Maluku. Dua Sultan Ternate yang kala itu menguasai sebagian besar Maluku tercatat secara resmi menyerahkan Maluku kepada Raja Portugal, pada 1545 oleh Tabariji dan setahun setelahnya oleh Khairun. Namun demikian, pusat kedudukan Portugis berpindah dari Ternate ke Ambon sejak Portugis diusir oleh Baabullah pada 1575. Spanyol sempat kembali lagi ke Maluku pascapembentukan Uni Iberia di bawah Mahkota Spanyol pada 1580 juga dengan bersekutu bersama Tidore.


Belanda pertama kali menginjakaan kakinya di Maluku pada 1599 di bawah pimpinan Wybrand van Warwijck dengan mengunjungi Ambon dan Banda. Kedatangan Belanda disusul Inggris yang datang di bawah pimpinan James Lancaster pada 1601. Mereka membangun loji di Banda. Setahun setelahnya, Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dibentuk. Persaingan Inggris-Belanda pun terjadi pasca Inggris yang kini datang sebagai Perusahaan Hindia Timur Inggris tiba kembali di Maluku pada 1604. Namun, setahun setelahnya, Portugis menyerah tanpa perlawanan kepada Belanda di Ambon pada 1605 dan segera meninggalkan Maluku. Sejak itu, Ambon menjadi pusat VOC di Nusantara sebelum pindah ke Batavia pada 1619. VOC sempat mengizinkan Inggris mendirikan kantor dagang di Ambon pada 1920 karena urusan diplomatik, meski Inggris harus meninggalkan Maluku pada 1623 setelah Pembantaian Amboyna terjadi. Monopoli VOC menimbulkan perlawanan dari penghasil setempat dalam bentuk penyelundupan. Hal inilah yang menyebabkan Pembantaian Banda oleh VOC pada 1621 dan kekerasan VOC terhadap Ambon-Lease yang berakhir menjadi Perang Ambon pada 1624–1658 di mana banyak rakyat Maluku dijadikan budak.


VOC yang menerapkan kebijakan pelayaran hongi dan ekstirpasi membatasi penanaman cengkih hanya di Ambon-Lease setelah Perang Huamual antara Huamual dan VOC-Ternate berakhir pada 1658. VOC benar-benar menjadi kekuatan terdepan Eropa di Maluku setelah Spanyol diusir dari Tidore dengan bantuan VOC pada 1663.


Sebagai jajahan VOC, Kepulauan Maluku terbagi menjadi tiga kegubernuran: Ambon, Kepulauan Banda, dan Ternate.


d. Perang Dunia II

Pecahnya Perang Pasifik tanggal 7 Desember 1941 sebagai bagian dari Perang Dunia II mencatat era baru dalam sejarah penjajahan di Indonesia. Gubernur Jenderal Belanda A.W.L. Tjarda van Starkenborgh, melalui radio, menyatakan bahwa pemerintah Hindia Belanda dalam keadaan perang dengan Jepang.


Tentara Jepang tidak banyak kesulitan merebut kepulauan di Indonesia. Di Kepulauan Maluku, pasukan Jepang masuk dari utara melalui pulau Morotai dan dari timur melalui pulau Misool. Dalam waktu singkat seluruh Kepulauan Maluku dapat dikuasai Jepang. Perlu dicatat bahwa dalam Perang Dunia II, tentara Australia sempat bertempur melawan tentara Jepang di desa Tawiri. Dan untuk memperingatinya dibangun monumen Australia di negeri negeri Tawiri (tidak jauh dari Bandara Pattimura).


Dua hari setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, Maluku dinyatakan sebagai salah satu provinsi Republik Indonesia. Namun pembentukan dan kedudukan Provinsi Maluku saat itu terpaksa dilakukan di Jakarta, sebab segera setelah Jepang menyerah, Belanda (NICA) langsung memasuki Maluku dan menghidupkan kembali sistem pemerintahan kolonial di Maluku. Belanda terus berusaha menguasai daerah yang kaya dengan rempah-rempahnya ini, bahkan hingga setelah keluarnya pengakuan kedaulatan pada tahun 1949 dengan mensponsori terbentuknya Republik Maluku Selatan (RMS).


e. Batas Wilayah

Maluku adalah salah satu provinsi yang ada di Negara Indonesia yang meliputi bagian selatan kepulauan Maluku,

Indonesia. Pulau Maluku terletak disebelah timur Negara Indonesia. Maluku sekitar 90% laut dan 10% darat.

Provinsi Maluku merupakan daerah kepulauan yang terdiri dari 637 pulau dan dari jumlah pulau tersebut terdapat pulau-pulau yang tergolong pulau besar (Seram). Luas Pulau Maluku adalah 62.946 km2. Pulau ini menjadi sangat terkenal karena hasil rempah-rempahnya yang sangat melimpah.

a) Letak astronomis

Letak Astronomis pulau ini terletak antara di 3'9' LU-3°15' LS dan 129°23' BT - 129°38' BT

b) Letak Geografis Pulau Maluku

Batas-batas Wilayah Pulau Maluku

Batas sebelah utara : Laut Seram

Batas sebelah selatan Laut Arafuru

Batas sebelah timur: Laut Irian Jaya

Batas sebelah barat Laut Sulawesi

Batas sebelah utara : Laut Seram

Maluku adalah salah satu provinsi yang ada di Negara Indonesia yang meliputi bagian selatan kepulauan Maluku,

Indonesia. Pulau Maluku terletak disebelah timur Negara Indonesia. Maluku sekitar 90% laut dan 10% darat.


2. Tokoh Nasional

Pahlawan dari Maluku memiliki peran penting dalam melawan para penjajah di Indonesia. Khususnya dalam mempertahankan wilayah Maluku sebagai bagian dari Indonesia.
Keberhasilan Indonesia untuk dapat menjadi sebuah negara yang merdeka dan berdaulat seperti saat ini tentunya tak lepas jasa dan pengorbanan para pahlawan. Perjuangan pahlawan termasuk di Maluku turut membuka jalan bagi Indonesia berdiri sebagai negara.

Sejumlah pejuang dari Maluku diberi gelar pahlawan nasional. Pemberian gelar ini sesuai dengan persyaratan yang diatur dalam UU No. 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan.


Adapun pahlawan dari Maluku yang tercatat di Data Pahlawan Nasional Direktorat K2KRS Kementerian Sosial RI ada 6 orang. Antara lain KS Tubun, Martha Christina Tijahahu, Kapitan Pattimura, Nuku Muhammad Amiruddin, Johannes Leimena, dan Sultan Baabullah.

1. AIP. TK. II Brig.Pol. KS Tubun

Ajun Inspektur Polisi Dua Anumerta Karel Sasuit Tubun lahir pada 14 Oktober 1928 di Tual, Maluku. Dia tercatat masuk Sekolah Polisi Negara di Ambon sejak Agustus 1951, dan kemudian dipindahkan ke dalam kesatuan Brimob di Jakarta.

KS Tubun meninggal tanggal 1 Oktober 1965 di Jakarta pada usia 36 tahun. Dia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Nasional Kalibata, Jakarta Selatan.

KS Tubun merupakan pahlawan dari Maluku yang menjadi salah satu korban pada Gerakan 30 September PKI 1965. Dalam catatan pada tahun 1955 KS Tubun mengikuti pasukannya yang mendapat tugas melakukan operasi militer terhadap DI/TII di daerah Aceh selama tiga bulan. Kemudian pada tahun 1958 juga melakukan operasi militer di daerah Sulawesi Utara bersama pasukannya untuk menumpas pemberontakan PRRI/Permesta.

Ia juga ikut dalam tugas membebaskan Irian Barat setelah diumumkan Tri Komando Rakyat (Trikora) pada tanggal 19 Desember 1961. KS Tubun kemudian mendapat tugas kehormatan menjadi anggota pasukan pengawal kediaman Wakil Perdana Menteri II Dr. J. Leimena.

KS Tubun kemudian gugur dalam menjalankan tugasnya mengawal kediaman Wakil Perdana Menteri, Dr. J. Leimena dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Ia gugur beberapa hari sebelum ulang tahunnya yang ke-37.

2. Martha Christina Tijahahu

Martha Christina Tijahahu merupakan pahlawan wanita dari Maluku yang gugur di usia muda. Martha Christina Tijahahu lahir pada 4 Januari 1800 di Abubu, Nusa Laut, Maluku.
Dia meninggal di usia 17 tahun, pada 2 Januari 1818 di Laut Banda, Maluku. Jasadnya disemayamkan di laut.
Martha Christina Tijahahu adalah pejuang muda yang tidak mengenal rasa takut. Ia merupakan puteri remaja yang turut dalam pertempuran melawan tentara kolonial Belanda dalam perang Pattimura pada tahun 1817.
Martha Christina adalah anak dari Kapitan Paulus Tijahahu, salah satu orang terpandang di Nusa Laut, Maluku. Martha selalu menemani ayahnya dalam setiap pertempuran untuk menghadapi serangan Belanda.
Adapun pertempuran yang diikuti Martha diantaranya perlawanan di Saparua pada tahun 1817, perlawanan merebut benteng Beverwijk, serta pertempuran di daerah Ulat dan Ouw.
Pada 12 November 1817, para pemimpin Nusa laut berhasil disergap oleh Belanda. Termasuk di dalamnya Martha Christina dan ayahnya.
Setelah ditahan dan diperiksa pada 15 November oleh Laksamana Buyskes, Paulus di vonis human mati dan dieksekusi pada 17 November 1817. Sementara Martha sendiri termasuk yang mendapat hukuman untuk dibuang ke Jawa.
Martha gugur sebagai tahanan Belanda. Ia meninggal di kapal Eversten dan bersemayam di sekitar Laut Banda.

3. Kapitan Pattimura

Pahlawan Maluku selanjutnya adalah Thomas Matulessy atau yang lebih dikenal dengan nama Kapitan Pattimura. Ia lahir di Haria, Saparua, Maluku pada 8 Juni 1783.

Kapitan Pattimura meninggal pada 16 Desember 1817 di New Victoria, Ambon, Maluku. Ia meninggal di usia 34 tahun.


Kapitan Pattimura merupakan pahlawan dari Maluku yang berjuang melawan Belanda saat hendak menguasai perdagangan rempah-rempah. Salah satu pertempuran terbesar yang dipimpin Kapitan Pattimura adalah ketika rakyat Maluku bersatu untuk merebut Benteng Duurstede dari tangan penjajah Belanda.

Benteng tersebut merupakan benteng Belanda pada abad ke-17. Dalam perlawanannya melawan penjajahan Belanda, Pattimura dikenal cerdik dan mampu menghimpun kekuatan besar rakyat Maluku.

Hal ini mempersulit pergerakan Belanda di Maluku. Bahkan, namanya pun disegani oleh para pemimpin VOC kala itu yang harus memutar otak untuk menghadapi perlawanan rakyat Maluku.

Kapitan Pattimura wafat di gantung oleh Belanda di benteng Victoria pada tahun 1817. Benteng tersebut merupakan Benteng peninggalan Portugis yang diambil alih oleh Belanda dan dipergunakan sebagai pusat pemerintahan, pertahanan, dan pembentukan kekuatan barisan tentara Belanda.

Kapitan Pattimura adalah salah satu pahlawan nasional yang tidak diketahui makamnya.

4. Nuku Muhammad Amiruddin

Nuku Muhammad Amiruddin adalah pahlawan dari Maluku Utara. Dia lahir pada 1738 di Soasiu, Tidore, Maluku Utara.

Nuku Muhammad Amiruddin meninggal pada 14 November 1805 di Tidore dan dimakamkan di Soa-Sio.

Pahlawan dari Maluku Utara ini merupakan Jou Barakati (Panglima Perang) yang memimpin Pertempuran laut maupun darat melawan Pasukan Kolonial Belanda. Dia bercita-cita membebaskan seluruh kepulauan Maluku Utara (Maloko Kie Raha) dari penjajah bangsa asing.

Nuku menggalang kekuatan dengan mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di daerah sekitar Seram dan Irian Jaya (Papua). Perjuangan Nuku berawal dari kasus suksesi kekuasaan di kerajaan Tidore, karena masuknya campur tangan VOC telah melahirkan peperangan beraroma perlawanan rakyat terhadap kekuasaan Pemerintah Kolonial.

Dalam riwayat politiknya, Ia tidak pernah secara langsung menandatangani perjanjian penyerahan kekuasaan baik kepada VOC maupun Pemerintah Hindia Belanda hingga ia wafat di tahun 1805. Nuku berperan dalam menggalang kebersamaan di wilayah Seram dan Irian Jaya hingga tuntutan kedaulatan RI atas wilayah tersebut didukung oleh makna kebersamaan sejarah dalam melawan penjajah.

5.Dr. Johannes Leimena

(Situs Direktorat K2KRS Kemensos)
Dr. Johannes Leimena lahir di Ambon pada 6 Maret 1905. Ia tercatat meninggal pada 29 Maret 1977 di Jakarta kemudian dimakamkan di TMPN Utama Kalibata.

Sebagai dokter, Leimena pernah bertugas di beberapa rumah sakit, diantaranya Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, Rumah Sakit Immanuel Bandung. Dr. Johannes Leimena aktif dan menjadi ketua dalam organisasi, diantaranya pergerakan Pemuda Kristen, Cristen Studenten Vereniging (SCV) dan Jong Ambon.


Leimena duduk sebagai anggota panitia mewakili Jong Ambon dalam Kongres Pemuda II 1928. Peran Leimena di bidang pemerintahan diawali sebagai Menteri Muda Kesehatan 1946-1947.

Setelah itu pada tahun 1956 ia menjadi Menteri Kesehatan dalam berbagai kabinet. Pada 1951 ia memulai proyek yang dikenal sebagai "Bandung Plan" dan kemudian berubah menjadi "Leimena Plan" yang berkembang menjadi Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas).

Sejak 1957, Leimena tidak lagi menjadi Menteri Kesehatan, Leimena kemudian memegang jabatan diantaranya, Menteri Sosial, Menteri Distribusi, Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan. Leimena juga diangkat menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Leimena juga pernah menjadi pendiri dan Ketua Umum Partai Kristen Indonesia (Parkindo), Pendiri GMKI, dan juga memegang jabatan Wakil Ketua Dewan Gereja-gereja di Indonesia (DGI).

6. Sultan Baabullah

Sultan Baabullah adalah pahlawan dari Maluku Utara. Ia lahir di Ternate pada 10 Februari 1528.

Sultan Baabullah meninggal di usia 55 tahun, tepatnya pada 25 Mei 1583. Ia kemudian dimakamkan di Foramadiaha, Ternate.

Ia merupakan sultan ke-7 dan penguasa ke-24 Kesultanan Ternate di Maluku utara yang memerintah antara tahun 1570 dan 1583. Pahlawan dari Maluku Utara ini sangat anti Portugis.

Hal ini berawal saat Potugis berupaya memonopoli perdagangan rempah-rempah yang sangat bernilai tinggi. Portugis sangat ingin memonopoli perdagangan rempah-rempah di Maluku dan Ternate khususnya.

Portugis yang awalnya diterima dengan baik di Ternate lama kelamaan memaksakan untuk memonopoli yang menyebabkan kakek Sultan Baabullah dibuang ke Goa-India dan ayahnya dibunuh.

Sultan Baabullah menjadi sangat anti-Portugis dan bertekad mengusirnya dari wilayah Kesultanannya. Tekad ini dibuktikan dengan mengirim ekspedisi ke berbagai daerah seperti Ambon dan Buton untuk mengejar orang-orang Portugis.

Ekspedisinya ini berhasil. Ternate pun terbebas dari cengkeraman Portugis pada masa pemerintahan Sultan Baabullah sehingga berhasil menjadi sentral perdagangan rempah­-rempah yang mempunyai jaringan internasional.


3. Kekayaan Alam

Maluku adalah salah satu provinsi yang memiliki kekayaan alam melimpah. Sejak abad ke-17 Maluku yang disebut "The spices island" oleh bangsa Eropa diburu karena kekayaan rempah pala dan cengkeh yang berlimpah.

Tapi itu dulu, saat harga pala dan cengkih lebih mahal dari emas dan berlian. Saat ini rempah-rempah sudah tidak dilirik karena harganya yang anjlok di pasaran serta kualitasnya kalah dari daerah maupun negara lain.

Kekayaan Maluku tidak semata-mata yang dikandung di daratan yang hanya seluas tujuh persen dari keseluruhan wilayah Maluku seluas 712.480 km persegi, sedangkan sisanya 93 persen lebih adalah laut yang menyimpan berbagai sumber daya alam (SDA) melimpah dan menjanjikan masa depan.

Laut yang begitu luas dan kaya beragam sumber daya hayati, sudah seharusnya menjadi sumber utama penggerak seluruh sektor pembangunan dan kesejahteraan masyarakat di Provinsi Maluku, yang tergolong miskin ke-4 di Tanah Air itu.

Ibarat wanita cantik, kawasan laut Maluku kini menjadi sangat "seksi, diincar berbagai pihak dalam dan luar negeri. Berbagai kebijakan dan program untuk mengoptimalkan pengelolaan SDA laut di Maluku, terus dilakukan pemerintah demi meningkatkan pendapatan negara dari sektor perikanan.


Potensi di Sektor Pertambangan

Secara umum potensi Sumber Daya Alam (SDA) Provinsi Maluku terbagi dalam lima sektor utama yaitu perikanan, perkebunan, pariwisata, pertambangan dan energi. Lima sektor ini belum tergarap maksimal, baik oleh masyarakat dan juga investor. Potensi inilah yang bisa dimanfaatkan investor dalam maupun luar negeri sehingga menimbulkan multiplier effect bagi pemerintah daerah, dan kesejahteraan masyarakat Maluku pada khususnya.

Provinsi Maluku memiliki luas wilayah mencapai 712,480 Km2, di mana luas daratan hanya 7,4 persen atau 54.184 Km2, serta memiliki 1.412 pulau, Sebagai daerah kepulauan yang dihasilkan dari proses vulkanik, Maluku sangat potensial dalam bidang pertambangan mineral. Terdapat beberapa jenis bahan galian bernilai tinggi di pulau-pulau wilayah Maluku, seperti logam dasar, tembaga, emas, mika, pasir kuarsa, nikel, batu bara, batu gamping, dan lainnya. Sebagian daerah sudah mulai terekplorasi dan sudah berproduksi. Tercatat, beberapa pulau besar memiliki potensi untuk pertambangan mineral.


Maluku memiliki laut yang sangat kaya. Kekayaan laut Maluku jelas terlihat dari potensi perikanan yang diestimasi sebesar 1.72 juta ton per tahun, dan merupakan 26,4 persen potensi perikanan nasional. Keindahan pantai dan alam bawah laut Maluku juga memiliki potensi pariwisata bahari yang sangat besar. Selain itu, laut Maluku juga  menyimpan berbagai macam mineral, minyak dan gas dalam jumlah yang sangat besar. Salah satu sumber gas alam yang sangat besar adalah blok Migas Abadi Masela. Kekayaan laut sebesar ini apabila dikelola dengan baik barangkali akan membuat Provinsi Maluku menjadi salah satu Provinsi terkaya di Indonesia, atau paling tidak mengangkat Maluku keluar dari kelompok propinsi termiskin di Indonesia.

Karena besarnya sumberdaya perikanan di Maluku, maka Maluku diusulkan menjadi Daerah Lumbung Ikan Nasional (LIN). Namun, salah satu potensi laut Maluku yang merupakan harta karun terpendam dan belum tersentuh selama ini adalah potensi bahan obat yang berasal dari biota laut. Sebagai salah satu provinsi yang terletak di jantung terumbu karang dunia, laut Maluku memiliki keragaman jenis biota laut yang sangat tinggi. Laut Maluku diestimasi memiliki ribuan jenis ikan, karang, spons, dll. yang masing-masing berpotensi menyimpan bahan bioaktif yang dapat dipergunakan sebagai bahan obat untuk berbagai penyakit. Sayangnya, potensi yang luar biasa ini masih terlupakan atau terabaikan dalam setiap pembahasan tentang potensi perikanan laut Maluku atau laut Indonesia secara keseluruhan. Memang dibutuhkan waktu untuk menemukan dan memproduksi bahan obat hingga sampai menjadi obat baru dibutuhkan teknologi canggih, waktu yang sangat lama dan biaya yang sangat besar.

Pada tahun 2014 Tu fts Center for the Study of Drug Development (CSDD) merilis temuan mereka yang sangat mencengangkan, bahwa dibutuhkan lebih dari 10 tahun dengan biaya sekitar 2.6 miliar dollar atau setara dengan 34,9 triliun rupiah untuk memproduksi obat mulai dari penelitian awal sampai obat tersebut bisa dijual. Lalu mengapa perusahan farmasi raksasa masih mau membuang uang sebanyak itu untuk menemukan obat yang baru? Karena menurut berita yang dirilis BB C pada tahun 2014, Perusahan-perusahan tersebut mendapat keuntungan sekitar 42% dari penjualan obat-obat baru mereka. Sebagai contoh, rata-rata obat kanker memiliki nilai sekitar 3 miliar dollar atau sekitar 40 triliun rupiah setahun yang berarti bahwa hanya dalam kurun waktu 1 tahun mereka sudah mendapat keuntungan besar walaupun mereka telah mengeluarkan 2.6 miliar dollar atau sekitar 34,9 triliun rupiah selama lebih dari sepuluh tahun. Bukan hanya obat kanker tetapi obat lain juga memiliki keuntungan yang luar biasa. Sebagai contoh perusahan obat Gilead meraup keuntungan sebesar 3.5 miliar dollar atau sekitar 46,7 triliun rupiah hanya dalam waktu 3 bulan akibat penjualan obat hepatitis C yang bernama Sovaldi. Keuntungan sebesar ini hanya bisa ditandingi oleh bank-bank besar.

Lalu seberapa besar potensi bahan obat yang ada di laut Maluku? Laut kita memiliki ratusan ribu jenis biota laut, 2jadi kalau dari sekian banyak biota laut, kita bisa mendapatkan ratusan jenis bahan obat saja, maka bisa dibayangkan berapa pemasukan bagi Provinsi Maluku dan Indonesia secara keseluruhan, apabila setiap obat bernilai sekitar 3 miliar dollar atau 40 triliun rupiah. Apalagi bila kita bisa menghasilkan ribuan bahan obat. Belum lagi potensi laut dalam kita yang banyak memiliki biota-biota dengan ensim-ensim dan bahan bioaktif yang tidak lazim ditemukan pada biota laut umumnya. Perlu dicatat adalah bahwa sumberdaya laut yang kita gunakan sebagai bahan obat adalah sumberdaya yang dapat diperbaharui, tidak seperti sumberdaya mineral, gas dan minyak yang akan habis seiring waktu.

Belajar dari pengalaman masa lalu, kita sudah harus mempersiapkan sumberdaya manusia, peralatan dan dana riset yang memadai untuk mengeksplorasi, meneliti, dan mengelola sumberdaya laut kita untuk menghasilkan bahan obat dan obat dari ratusan ribu organisme laut yang kita miliki. Mari bersama kerja keras untuk mempersiapkan generasi berikut agar bisa bersaing di tingkat internasional.

Komentar